Muhammad Yunus, Pemuda yang Memilih Menjadi Imam Masjid


Terucap syukur untuk segala kenikmatan yang diberikan lewat langit yang memancarkan rona jingga. Menyaksikan dedaunan yang dengan syahdu menerima kehidupan. Siulan burung kenari yang menari di udara seolah memberikan isyarat bahwa dia pun sedang bersyukur kepadaNya. Aku pun yakin bahwa di belahan bumi lainnya ada gunung-gunung hijau yang menjulang, tampak megah dan asri atas kuasaNya. Langit senja perlahan berubah warna jingga keabu-abuan, nampak serasi dengan alunan ayat Ilahi yang dikumandangkan muadzin.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Allahu Akbar,
....”
            Suara adzan menggema membelah langit senja. Tampak beberapa derap langkah kaki menuju masjid Cheng Hoo. Rumah Allah yang terletak di sudut kota metropolitan itu selalu ramai dikunjungi. Orang tua, bapak-bapak, ibu-ibu, gadis dan para remaja, tak ketinggalan bocah-bocah kecil juga berbondong-bondong datang melaksanakan shalat berjamaah ke masjid Cheng Hoo.

Setelah berwudhu, aku dan jamaah lainnya pun mengisi shof-shof yang masih kosong. Muadzin lalu beranjak dari tempatnya dan menghampiri pengeras suara.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Asyhaduan laailaaha illallah,
...”
            Iqomah telah dikumandankan dan shalat magrib dilaksanakan. Suasana berubah menjadi hening. Lalu yang terdengar hanyalah suara imam shalat magrib. Suara yang merdu dengan keyakinan yang begitu dahsyat pun tidak ada keraguan yang terekam. Aku tercenung sesaat ketika mendengar suaranya, sejuk laksana mata air dari syurga mengalir di wajah dan seluruh tubuh ketika ayat tentang syurga dilantungkan oleh imam itu. Bagaikan tetes air di tengah padang sahara. Serupa oase yang menyirami lahan nan tandus.
***
Masjid Cheng Hoo di Jl. Tun Abdul Rasak Gowa Sulawesi Selatan dengan ciri khasnya yang merupakan masjid dengan gaya arsitek perpaduan Bugis dan Tionghoa. Terlihat jelas makna assulappa appa (empat penjuru) dari pilihan warna bangunan yakni didominasi merah, kuning emas, putih dan hijau. Serta bentuk bangunan persegi yang dikombinasikan dengan bangunan khas China dan Bugis Makassar.

Ternayata bukan hanya bangunan Masjid Cheng Hoo yang memiliki ciri unik dan menarik. Imam shalatnya juga ternyata sangat khas. Pria yang lahir pada 24 Februari 1991 pemilik nama Muhammad Yunus Ramang adalah imam masjid Cheng Hoo sejak tahun 2015.

            Pria ini telah menjelajahi masjid-masjid di Kota Makassar untuk menjadi imam shalat lima waktu dan salah satunya di Masjid Amaliyah Rappocini, Masjid Baitul Khair Daeng Tata, Masjid Alkautsar Antang dan pada akhirya sampai ke masjid Cheng Hoo.

Saat berbincang-bincang dengannya aku sempat bertanya, “bagaimana sih proses sehingga bisa menjadi imam shalat di Cheng Hoo?”.
          “Prosesnya cukup panjang tapi entah, atas pertimbangan apa sehingga saya terpilih menjadi imam shalat di sini. Padahal ada puluhan calon imam yang ikut seleksi dan bahkan ada beberapa peserta yang berasal dari Arab tapi tidak terpilih.” Tuturnya dengan santun.
            Pria yang akrab disapa dengan sebutan Ustaz Yunus berperawakan sederhana, rapi, dan bersih. Berkulit putih, mempunyai berat badan 45 kg dengan tinggi badan 160 cm. Tidak hanya menjadi imam shalat lima waktu di Cheng Hoo akan tetapi membimbing para muallaf yang baru-baru di Islamkan, memberi solusi hidup untuk jamaahnya, mengajar tajwid, dan membawakan kuliah tujuh menit (kultum). 
Pria yang berasal dari Kolaka Utara Sulawesi Tenggara ini mulai menjadi imam shalat sejak usianya masih berumur 16 tahun. Di usianya yang terbilang masih muda untuk menjadi seorang imam, orang tuanya pernah merasa malu bahkan tidak ikut berjamaah lantaran anaknya yang menjadi imam shalat di masjid kampung halamannya.

Namun pada akhirnya, setelah masyarakat bercerita ke orang tua Ustaz Yunus dan menyarankan untuk ikut berjamaah, barulah ibunya datang ke masjid. Sedangkan bapaknya masih enggan untuk datang berjamaah, menyaksikan dan mendengar langsung bagaimana anaknya memimpin shalat.

“Rasanya seperti melayang di atas langit. Tidak ada perasaan yang paling senang dan paling indah ketika mendengar anak saya menjadi imam shalat.” Begitulah perasaan yang diungkapkan ibunda dari Ustaz Yunus saat pertama kali menyaksikan anaknya memimpin shalat.

Semenjak itu, kedua orang tua Ustaz Yunus yang sebelumnya hanya orang biasa bahkan tidak terlalu dikenal oleh masyarakat sekarang dijadikan contoh dan menjadi orang yang paling didengar oleh masyarakat.

“Saya tidak rugi berkebun mulai pagi sampai sore untuk menafkahi anakku kalau hasilnya  seperti ini. Karena kebanggan paling tinggi yang pernah saya rasakan adalah pada saat anak saya menjadi imam.” Tutur H. Ramang, ayahanda Ustaz Yunus.
***
Pria jebolan pesantren Majelis Qurra Wal-Huffadzh As’adiyah Sengkang ini, pada 19 April 2017 juga resmi menyandang gelar magisternya di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dengan program Beasiswa Tahfidz Quran oleh PPPA Darul Quran yang dirintis Ustaz Yusuf Mansur. Akan tetapi perasaan bangga kedua orang tua Ustaz Yunus belum tergantikan pada saat anaknya mendapatkan gelar hafidz 30 juz diusianya yang masih berumur 18 tahun.

Motivasi yang kuat untuk menjadi seorang hafidz memang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. Ustaz Yunus mengungkapkan bahwa, “dulu, saya sendiri yang memang serius ingin menghafal Alquran. Sampai menunda melanjutkan sekolah menengah karena ikut belajar di As’adiyah Sengkang. Saat itu saya hanya fokus menghafal saja. Setelah mendapatkan gelar hafidz, barulah saya melanjutkan sekolah.”

“Ustaz, bisa menjadi imam shalat lima waktu dan menjadi motivator bagi para muallaf itu perasaannya bagaimana?”

“Kalau menjadi imam shalat yang sempurna, saya rasa tidak ada imam yang sempurna. Tidak ada yang bisa menjadi imam kalau harus yang sempurna. Sebelumnya saya juga tidak habis pikir bahkan saya merasa tidak pantas untuk menjadi imam. Ada perasaan yang bergejolak. Namun setelah saya pikir kembali ternyata menjadi seorang imam itu bisa memotivasi untuk memperbaiki diri dan mengawetkan hafalan. Juga menjadi imam masjid ibaratnya sebagai alat untuk berbagi ilmu.”

Selain itu, orang tua Ustaz Yunus memang sangat ingin melihat anaknya menjadi seorang hafidz. Sehingga Ustaz Yunus bercita-cita ingin menjadi anak kebanggaan dengan megabulkan keinginan kedua orang tuanya.

Memilih menjadi imam shalat lima waktu mungkin sebagian orang akan berpikir sangat rumit membagi waktu pribadi dengan jadwal shalat yang sudah pasti. Rutinitas luar akan sangat terbatas. Hal tersebut juga sempat dirasakan oleh Ustaz Yunus, selain kuliah memilih tugas pokok menjadi imam shalat lima waktu adalah hal yang utama.

Dengan kondisi seperti itu, mungkin wajar kalau kebanyakan imam masjid tidak mempunyai waktu untuk ikut berorganisai, menyalurkan hobi, dan berkumpul lebih lama dengan kerabat-kerabat di luar sana. Namun itu tidak menjadi persoalan bagi Ustaz Yunus.
Edi Kusuma Wardana, salah satu teman akrab Ustaz Yunus mengungkapkan bahwa, “Yunus tidak hanya dikenal sebagai orang yang mudah bergaul dengan semua kalangan mulai dari orang tua sampai anak-anak, dia juga mempunyai hobi main tenis meja sejak kecil.”

Tidak heran jika Ustaz Yunus sering meraih juara tenis meja. Mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, dan provinsi. Pernah membawa nama Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara di perlombaan Pra Porda Tenis Meja. Juga pernah mendapat beasiswa karena membawa nama UIN Alauddin Makassar.

“Selain menyukai olahraga tenis meja, Yunus juga mempunyai hobi mendaki dan suka dunia fotografi.” Edi Kusuma Wardana menambahkan.

Ustaz Yunus juga aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Hanya saja secara resminya Ustaz Yunus tidak pernah mengikuti pengkaderan. Sekedar aktif mengikuti kajian-kajiannya saja.
Saat ini dengan usianya yang sudah memasuki 26 tahun, pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan yang selalu dilontarkan kepadanya adalah hal yang sudah biasa baginya. Bahkan Ustaz Yunus mengakui bahwa pengalaman yang paling menarik saat menjadi imam masjid adalah saat seorang ustaz yang cukup terkenal di Kota Makassar melamarkan putrinya untuk dijadikan istri.

Seorang ustaz yang cukup terkenal dan terbilang konglomerat tidak hanya melamarkan putrinya, juga menawarkan usaha Travel Umrah dan Haji serta pesantrennya untuk dikelolah oleh Ustaz Yunus ketika bersedia menjadi suami dari putrinya. Namun wallahua’lam atas pertimbangan apa sehingga Ustaz Yunus melewatkan kesempatan tersebut.

Belajar dari kehidupan Ustaz Yunus, maka benarlah firmanNya “..niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Qs. Al-Mujaadilah: 11.

Pengalaman hidup Ustaz Yunus dapat dipahami bahwa seseorang yang memiliki iman dan ilmu akan diangkat beberapa derajat oleh Allah. Keimanan dan ilmu merupakan modal utama untuk dapat meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.

Fitriani Ulma
Rabu, 19 Maret 2017


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Muhammad Yunus, Pemuda yang Memilih Menjadi Imam Masjid"